Merdeka Tanpa Andalkan Utang

Syaykh Abdussalam Panji Gumilang, seorang tokoh yang merupakan personifikasi dari Al-Zaytun, dalam rangka kehidupan beragama, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Serta aplikasinya dalam proses belajar di Al-Zaytun dan dalam interaksi sosial di tengah masyarakat. Kami memberi judul utama: Mutiara Pemikiran Syaykh Al-Zaytun. Tulisan ini merupakan bentuk pengenalan dan apresiasi kami, selaku wartawan Tokoh Indonesia (yang menganut jernalisme damai), kepada Al-Zaytun, yang mudah-mudahan berguna bagi pembaca dan keluarga besar Al-Zaytun sendiri.Penulis Syaikh AS Panji Gumilang pimpinan pondok pesantren Mahad Al-ZaytunIndonesia Harus Kuat! Seruan ini selalu bergema setiap kali ada upacara di Al-Zaytun. Seruan yang bermakna luas. Di antaranya: Indonesia yang kuat adalah Indonesia yang merdeka. Indonesia yang merdeka adalah Indonesia yang mandiri. Bermakna: Merdeka adalah budaya mandiri! Yakni, Indonesia yang membangun dengan budaya mandiri, tanpa mengandalkan utang luar negeri.

Kemerdekaan dan kemandirian bukan hanya seruan dan slogan dalam kata-kata indah di Al-Zaytun. Tetapi sekaligus menjadi sikap dan aksi bahkan telah menjadi tradisi, etos dan budaya.

Syaykh AS Panji Gumilang yang selalu menyuarakan kemandirian untuk membangun Indonesia sangat yakin Indonesia mampu membangun diri menjadi kuat dengan menggalang budaya mandiri dan menghindari budaya utang.

Setiap kali berbicara mengenai pembangunan, baik dalam ruang lingkup yang kecil maupun ruang lingkup nasional, Syayk Panji Gumilang selalu mengedepankan budaya kemandirian. Bukan hanya dalam kata, tetapi dalam tindakan. Dalam ruang lingkup Al-Zaytun, Syaykh telah memberi contoh nyata bagaimana cara mengimplementasikan kemandirian dalam membangun.

Pembangunan Al-Zaytun yang dipandang berbagai pihak amat spektakuler, ternyata dibangun dalam budaya kemandirian dan kebersamaan. Bagi mereka yang belum mendalami aplikasi kemandirian dan kebersamaan secara utuh di lembaga pendidikan bersemangat pesantren dan bersistem modern ini, tak jarang beranggapan pembangunan Al-Zaytun menjadi amat mengejutkan.

Namun bagi mereka dan juga kami yang telah beberapa kali berdialog dengan Syaykh dan mengunjungi Al-Zaytun, justru akan sampai pada pengenalan bahwa Al-Zaytun adalah sebuah lembaga pendidikan budaya kemerdekaan dan kemandirian.
Di sini para generasi muda, sejak dini, dilatih berpikir dan bertindak merdeka dan mandiri. Merdeka dan mandiri dalam pemahaman luas. Yakni, kemerdekaan dan kemandirian dalam interaksi yang harmonis dengan kemerdekaan dan kemandirian orang lain atau bangsa lain (interdependensi).

Kemerdekaan yang bermakna budaya kemandirian, menjadi salah satu butir mutiara pemikiran Syaykh Al-Zaytun yang kami anggap sangat berharga untuk ditransformasikan bertepatan pada bulan kemerdekaan (17 Agustus 1945-17 Agustus 2006) ini.

Setidaknya, momentum inilah yang mendorong kami memilih judul di atas, menjadi bagian kedua dari rangkaian tulisan kami mengenai Mutiara Pemikiran Syaykh Al-Zaytun. Berikut ini kami petik dan tuturkan pemikiran dan pandangan Syaykh tentang: Merdeka (membangun dalam kemandirian) tanpa andalkan utang luar negeri.

Indonesia yang kuat adalah Indonesia yang merdeka. Indonesia yang merdeka adalah Indonesia yang mandiri. Bermakna: Merdeka adalah budaya mandiri! Yakni, Indonesia yang membangun dengan budaya mandiri, tanpa mengandalkan utang luar negeri.Membangun Tanpa Utang
Menurut Syaykh Abdussalam Panji Gumilang, definisi siapapun, tujuan pembangunan adalah kemandirian. Tatkala kita membangun dengan budaya mandiri, itu berarti kita akan mendapat pengalaman untuk membangkitkan percaya diri, formula ini mungkin terasa berat dalam sepuluh tahun pertama.

Namun, kata Syaykh, setelah kemampuan kita sejajar dengan budaya mandiri yang kita miliki, kita akan menemukan suatu perkembangan baru, sebagai apa yang disebut dengan halawatul kasab (manisnya usaha mandiri).

Memang, menurut Syaykh, masuk dalam budaya mandiri dalam membangun, bagi negara yang pemerintahnya terbiasa dengan budaya utang, merupakan sesuatu pekerjaan yang dianggap tidak mungkin dilakukan.

Tokoh pendidikan terpadu ini mengatakan, budaya utang untuk pembangunan, itu maknanya budaya mengharap dibangun orang lain, melenceng dari makna dan hakekat membangun. Menurutnya, membangun maknanya menerima tantangan-tantangan kita sendiri.

Jika pembangunan bersandar kepada utang luar negeri (bahasa halusnya bantuan pembangunan), itu bermakna memberikan tantangan-tantangan atau menjadikan tantangan-tantangan itu direbut dari tangan kita oleh orang lain.

Dia menegaskan, bahwa pihak lain tidak dapat menjadi sebab dalam membangun diri. Juga pembangunan tidak boleh merugikan otonomi diri. Karenanya itu, menurutnya, membangun adalah menerima tantangan kita sendiri.

“Agar pembangunan berlangsung, kita harus menanamkan suatu budaya dalam individu maupun masyarakat. Sebab, kebudayaan merupakan kerangka kerja simbolik, pola pikir yang membentuk pemikiran kita, solah-bowo kita, tutur-warah kita, serta laku-lampah kita. Dengan demikian pencarian kebudayaan yang kufu’ (adequate) mumpuni dan memadai dengan pembangunan, merupakan suatu problematika yang tidak pernah berakhir, yang harus dilakukan adalah semua upaya harus dapat diselaraskan satu sama lainnya.”

Syaykh selalu mengajak, mari kita mencoba masuk ke dalam budaya mandiri dalam membangun. Sesuai dengan makna membangun adalah membangun diri. Orang lain tidak dapat menjadi sebab pembangunan dalam diri. Kita membangun bukan karena Jepang, Amerika, Eropa, dan lain-lain.

Sekali lagi, otonomi/mandiri adalah tujuan pembangunan. Kita membangun, kita membangun diri kita, masyarakat kita, negara kita, dan kita membangun satu sama lain.

Lalu, kondisi yang diperlukan bagi pembangunan jenis apapun, menurut Syaykh, adalah desentralisasi distribusi faktor produksi bagi semua. Sehingga semua orang menjadi partisipan potensial dalam produksi, bukan hanya dalam konsumsi.

Dalam kaitan ini, menurut Syaykh Panji Gumilang, pada dasarnya, bantuan pembangunan (utang luar negeri) adalah cara untuk memastikan reproduksi di seluruh dunia, bahkan kelangsungan hidup, budaya, dan struktur negara-negara donor, dengan memanfaatkan kemiskinan lokal untuk legitimasi.

Menurutnya, ketika bantuan pembangunan gagal mengurangi kemiskinan, tetapi sebaliknya mengarah kepada reproduksi kemiskinan, ini dilihat sebagai satu lagi alasan untuk melanjutkan bantuan pembangunan itu.

Ketua Masyarakat Ekonomi Pesantren Indonesia ini melihat, negara donor bertindak sebagai “Ayah” memanfaatkan kesempatan untuk berekspansi, kali ini secara ekonomis dan budaya dan bukan semata politik dan militer, dan dalam waktu yang sama bertindak sebagai “Ibu” merasa ringan untuk membagi-bagi begitu banyak amal dalam semua arah.

Perjuangan Menjadi Bangsa Mandiri
Pesan dan seruan untuk mandiri dari Syaykh AS Panji Gumilang, antara lain disampaikan pada puncak perayaan tahun baru Hijrah yang ke 1426 di Al-Zaytun, bertajuk: Membangun Merupakan Perjuangan untuk Menjadi Bangsa Mandiri.
Syaykh mengawali amanahnya dengan bersyukur kepada Allah dan berdoa semoga sepanjang tahun ini kita dikaruniai kesejahteraan, kemakmuran, kebaikan, keselamatan, dan kedamaian. Sehingga akidah hidup kita sebagai penyebar kehidupan bertoleransi dan perdamaian dapat semakin meluas dan terpenetrasi secara mendalam di dalam lingkungan kehidupan ummat manusia, terlebih lagi di dalam kalangan ummat dan bangsa Indonesia.

Setiap memperingati dan merayakan datangnya tahun baru Hijrah, kata Syaykh, pertanyaan selalu kita sampaikan kepada diri kita: Adakah tanda-tanda kemajuan yang telah kita capai selama ini? Untuk menjawabnya, sama sekali tidak cukup hanya dengan ungkapan verbal, melainkan dengan kegigihan amal perbuatan yang terbaik yang dapat dirasakan oleh segenap lapisan ummat manusia dalam lingkup kecil sampai dengan yang paling besar. Sebab amal perbuatan baik itu, tidak mengenal batas, atau boleh dikatakan lintas batas.

“Kita ummat muslim, merupakan komponen ummat manusia penghuni dunia yang majemuk, bertanggung jawab secara bersama, mewujudkan kehidupan penuh harmoni, toleransi dan damai, antar sesama ummat manusia,” kata pemangku pendidikan dan Doktor Honoris Causa bidang Management, Education and Human Resources dari IMCA-Revans University itu.

Dalam konsepsi nasional, menurutnya, kita merupakan warga bangsa yang mendiami sebuah negara Bhinneka Tunggal Ika, bertanggung jawab secara bersama dalam mencapai tujuan nasional yang mencakup pewujudan Kepulauan Nusantara sebagai satu kesatuan politik, sosial, budaya, ekonomi, dan pertahanan keamanan.

Karenanya, Ketua Ikatan Alumni IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta periode 2002-2004, ini menegaskan, tatkala kita bersikap, berbuat, berkarya dan berjuang, tidak keluar dari wawasan dan konsepsi nasional, sebagai partisipasi aktif kita mewujudkan Dunia Harmoni Penuh Toleransi dan Perdamaian, bersama ummat dan bangsa-bangsa lainnya di dunia ini. Itulah manifestasi Rahmatan lil ‘alamin, yakni: Berfikir Global dan Bertindak Lokal.

Sekilas Pembangunan Indonesia
Alumni Penpes Gontor ini kemudian menyoroti sekilas pembangunan Indonesia. Era pemerintahan Presiden Soekarno, membangun. Sukses mengumandangkan slogan-slogan pembangunan, dan jatuh tertimpa slogan pembangunannya, karena keberpihakan yang tidak seimbang terhadap ideologi-ideologi besar dunia.

Era Presiden Soeharto, “sukses gilang-gemilang” dalam menjalankan Rencana Pembangunan Lima Tahunannya (Repelita), sampai kepada era pembangunan yang diistilahkan dengan Tinggal Landas, namun juga jatuh/tertimbun oleh “kesuksesannya”.

Muncul Era Reformasi, seorang tokoh yang populer pada zamannya yang singkat, Amien Rais, mampu menjebol kekuasaan Presiden Soeharto, atas dorongan dari bawah, demonstrasi massa rakyat (mahasiswa), dan tekanan dari atas.

“Namun, tokoh reformasi ini tidak berkeupayaan menjabarkan konsep-konsep verbalnya dalam bentuk implementasi riel. Sehingga tidak mampu menghantarkan ambisinya menjadi Presiden Indonesia, karena secara demokratis mayoritas rakyat Indonesia belum menerima “pionir” reformasi ini. Beliau dipetieskan oleh kekuatan demokrasi,” kata alumni IAIN (sekarang UIN) Syarif Hidayatullah, Jakarta itu.

Dia kemudian mengemukakan suatu kejadian di bekas Negara Uni Soviet, dimana para pemimpin negara tersebut ditekan dari atas dan bawah, dan jatuh, dan ada sebuah upaya untuk kembali, juga gagal. Namun penggagas dari keseluruhan proses ini, Gorbachev, juga dijatuhkan.

Menurutnya, ide-ide besar reformasi itu, sesungguhnya juga pembangunan.
Era presiden-presiden sesudah Presiden Soeharto juga berprogram membangun Indonesia ini, dari Presiden Habibie, Presiden Abdurahman Wahid, dan Presiden Megawati Soekarno Putri.

Demokrasi Progresif
Kini Era Baru telah datang, dalam tahun 1425 (2004). Bangsa Indonesia mengukir fenomena baru, masuk ke dalam budaya Demokrasi Progresif, sesuatu yang belum pernah dilakukan dalam agenda pembangunan demokrasi di masa lalu. Demokrasi progresif adalah suatu sistem yang terus bertumbuh-kembang. Rakyat Indonesia berkemampuan menyikapinya secara piawai.

“Kita rakyat Indonesia sedang dan terus membangun budaya, yakni Budaya Demokrasi. Berpijak dari budaya yang dibangun oleh rakyat secara bersama inilah kita memasuki Era Baru Indonesia. Kini Indonesia sedang menata dan memiliki pemerintahan yang berpijak pada rentetan sejarah dan budaya yang dibangun sendiri oleh rakyatnya,” ujarnya.

Syaykh menyebut pemilihan presiden dan wapres terlaksana secara demokratis, rakyat Indonesia telah memilih pemerintah negaranya secara demokratis, selanjutnya berpengharapan secara demokratis pula, yakni, segala perjalanan kini dan ke depan selalu berpijak pada ide besar demokrasi: Dari rakyat oleh rakyat untuk rakyat.

Banyak orang (rakyat Indonesia) menyimpulkan, bahwa berbagai proses pembangunan Indonesia masa lalu disimpulkan “gagal”. “Jika kesimpulan itu benar, yakni proses pembangunan masa lalu kita itu gagal, jangan pernah menyerah, mari kita mulai lagi dari proses yang dianggap salah dan gagal itu, bahkan kalau perlu dari awal, sebab jika proses masa lalu itu berhasil pun, dalam abad yang penuh tantangan ini kita juga harus memperbaharui makna pembangunan itu,” kata Syaykh al-Ma’had yang dijuluki Tokoh Indonesia sebagai Pelopor Pendidikan Terpadu itu.

Menurutnya, kita tidak boleh memaksakan bahkan pura-pura berhasil, sekalipun beban semakin tak tertanggungkan lagi. Jika sepatu yang kita pakai sesak, jangan kita paksa memakainya, sepatu ukuran lain pasti mudah didapatkan. Karenanya, mari kita maknai kembali pembangunan Indonesia kita.

 

Membangun pada dasarnya adalah membangun diri. Untuk menciptakan kemajuan pada level personal maupun sosial; Yakni menciptakan personal-personal yang kuat, masyarakat-masyarakat yang kuat, menjadi bangsa yang kuat, diawali dengan penyingkapan suatu budaya dan merealisasikan budaya itu. Selanjutnya, karena ummat manusia itu mempunyai kebutuhan-kebutuhan, jika tidak terpenuhi maka mereka bukan lagi makhluk hidup.

Karenanya pembangunan juga pemenuhan kebutuhan-kebutuhan alam manusia dan non manusia, dimulai dengan mereka yang paling membutuhkan. Pada makna yang lain pula pembangunan adalah pertumbuhan ekonomi, yang seharusnya tanpa mengorbankan siapapun. Sehingga tercipta perdamaian sebagai kondisi dalam ruang untuk pembangunan tanpa kekerasan.

Maka, menurutnya, setting pembangunan adalah, membangun suatu budaya: Budaya ingin maju, ingin kuat secara individual masyarakat, dan bangsa. Dilandasi oleh budaya dan peradaban yang kokoh, masuk ke dalam realisasi. Pemenuhan kebutuhan-kebutuhan hidup dan kehidupan untuk ummat manusia, dan makhluk hidup lainnya yang non manusia, yang karenanya tercapailah pertumbuhan ekonomi yang merata dalam tataran individual, masyarakat maupun bangsa, bahkan bangsa-bangsa di dunia, yang dapat memancarkan perdamaian internal dan external dalam ruang pembangunan tanpa kekerasan.

Kelompok Dunia Ketiga
Kemudian Syaykh al-Ma’had mengatakan dalam menghadapi tantangan-tantangan, berbagai proses ditampilkan oleh masyarakat dunia.

Dunia Pertama, tantangan datang pada orang yang menangani modal, teknologi, atau manager, sebagai properti pribadi. Dunia Kedua (waktu itu Sosialis), tantangan diberikan kepada kelompok sangat kecil, perencana yang memiliki terlalu banyak tantangan sementara penduduk lain tetap kurang tantangan.

Dunia Ketiga, tantangan sangat sering dan selalu diberikan kepada pihak luar, dalam bentuk bantuan luar negeri, yang manfaatnya pergi kepada orang lain.
Dunia Keempat, tantangan diberikan kepada orang yang sama sebagaimana di Dunia Pertama, tetapi kemudian dibagi dalam kelompok-kelompok yang melibatkan para pekerja, akibatnya perusahaan mendapat manfaat dan negara diuntungkan dari pemrosesan bersama atas suatu tantangan.

Diperhatikan dari cara memroses tantangan-tantangan tersebut, menurut Syaykh, Indonesia masih masuk ke dalam kelompok Dunia Ketiga, yang selalu melepaskan tantangan-tantangan intern-nya seraya menyerahkannya kepada pihak luar, dalam bentuk Bantuan Luar Negeri (utang). Dalam setengah abad membangun, pemerintah Indonesia selalu melepas tantangan-tantangannya kepada luar negeri.

Menjadi kelompok Dunia Ketiga, selalu merasakan akibat/efek samping negatif dari aktivitas ekonomi (eksternalitas negatif), namun tidak berkeupayaan untuk menanganinya (seperti penanganan limbah, atau yang sangat jelas penanganan sampah di kota-kota besar).

Kemerosotan besar terus menggelinding dan mereproduksi keterbelakangan. Kegiatan ekspor barang jadi/olahan semakin terhenti, andalannya hanya pada bahan mentah dari sumber daya alam, yang keberadaannya semakin menipis. Dunia Ketiga selalu menjadi sasaran ekspor oleh Dunia Pertama, termasuk ekspor eksternalitas negatif (misalnya limbah atau barang-barang bekas).

Mewujudkan Bangsa Mandiri
“Mewujudkan bangsa yang lebih mandiri adalah sebuah perjuangan dan merupakan kerja keras yang tidak pernah berakhir,” kata pemangku pendidikan pembawa damai dan toleransi itu.

Kemandirian bagi bangsa Indonesia, katanya, bukan lagi diukur dari statement/proklamasi kemerdekaan, namun ukurannya lebih kepada upaya mengisi kemerdekaan, dengan sikap mandiri, berbuat mandiri, dan membangun secara mandiri.

“Jika itu tidak kita lakukan, kemudian kita tertinggal, maka pesaing kita akan maju. Jika kita tertinggal, yang mendapat keuntungan besar dari ketertinggalan kita adalah orang lain. Dan jika kita tertinggal maka terjadilah ketidaksingkronan sangat serius dalam ekonomi finansial – riil (F/R) dan arah ekonomi kita menjadi stel kendo dan mémblé (undercooled) bahkan juga dapat berirama sangat panas dan gila-gilaan (overheated), dimana finansial tidak mencerminkan bahkan tidak dapat melayani riil,” tegasnya.

Dengan Budaya Mandiri, menurutnya, akan tumbuh upaya menjadi bangsa yang berkecukupan, bahkan menjadi bangsa yang kuat dan kaya. Untuk menuju ke arah itu, Bangsa Mandiri selalu ingin membantu alam dengan keseimbangan lingkungan, dan terus meningkatkan kerja keras dalam peningkatan kesihatan dan pendidikan, tanpa pernah lupa bahwa tingkat pendidikan dan kesihatan 50% lebih lapisan bawah sama pentingnya dengan lapisan atas.

Bangsa Mandiri harus mampu mewujudkan aliran keseimbangan ekologi (hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan kondisi alam sekitar). Alam telah ada jauh lebih lama daripada manusia. Alam sebagai sumber pelajaran mengenai holisme, dinamisme, dan keberlanjutan, karenanya alam bersifat dasar, semua yang lain bergantung kepadanya, alam dapat bertahan tanpa manusia, kita bergantung kepada alam sedangkan alam sama sekali tidak bergantung kepada kita. Bahkan sering manusia menghancurkan alam, sebagaimana ditunjukkan oleh krisis lingkungan hari ini (khususnya banyak terjadi di Dunia Ketiga) yang karenanya alam juga dapat menghancurkan kita.

Bangsa Mandiri selalu memiliki kesadaran betapa makna kesihatan dan pendidikan bagi setiap warga bangsa. Membangun SDM sehat berarti menciptakan masyarakat-masyarakat Seger Waras, Sehat dan Waras. Seger dan Sihat biasanya berhubungan dengan fisik, sihat jasmani, cukup sandang-pangan dan papan, sedangkan Waras biasanya berkaitan dengan kemantapan jiwa dan rohani.

Bangsa Mandiri selalu sadar akan makna pelaksanaan pendidikan masyarakat-masyarakatnya, dalam segala lapisannya. Karena seluruh warga masyarakat dan bangsalah hakekat pelaksana dan pelaku pembangunan yang akan tampil sebagai bangsa dan individu-individu yang berjiwa enterpreneur yang tinggi, yang kemudian dapat berkiprah di dalam diplomasi geoeconomics, yang dibangun untuk menciptakan kebersamaan antar kekuatan ekonomi ummat manusia.

Pendidikan, kata Syaykh kelahiran Gresik 30 Juli 1946, itu merupakan wahana penanaman budaya. Pendidikan akan menciptakan sumber daya manusia “matang”. Manusia terdidik secara “matang” merupakan investasi yang sangat tinggi nilainya. Dari SDM yang “matang” inilah negara akan mampu menyelenggarakan perdagangan, dimana perdagangan itu sendiri adalah komunikasi.

Mengkomunikasikan kebudayaan adalah komunikasi pada tingkat yang lebih tinggi daripada mengkomunikasikan alam. Di samping itu, pada prinsipnya makin Padat-Budaya aktivitas ekonomi, makin tidak berbahaya bagi lingkungan. Aktivitas ekonomi Padat-Alam menghabiskan alam dan menimbulkan polusi.

SDM terdidik secara “matang” akan sanggup tidak terikat dengan bentuk-bentuk komunikasi Padat-Alam. Komunikasi elektronik mungkin dapat mewakili satu langkah maju. Selanjutnya SDM terdidik yang memiliki kemampuan Padat-Budaya akan dapat menggantikan ekspor tenaga kerja Indonesia yang selama ini hanya memiliki Padat-Dengkul. Ch. Robin Simanullang (Berita Indonesia 19)

Sumber>>//beritaindonesia.co.id

 

About laskarmim

Menuju masyarakat indonesia yang adil dan sejahtera

Posted on September 17, 2011, in Berita nasional. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s