Catatan Sejarah Syarekat Islam (1)

HOS Cokroaminoto

Pengantar :

Akar kesadaran politik umat Islam pada masa modern di Indonesia adalah dengan bangkitnya SI (Syarekat Islam) sebelum Perang Dunia I yang merupakan transformasi dari Sarekat Dagang Islam (SDI).  Lahirnya SDI bukanlah satu kebetulan dalam sejarah (an historical accident) yang tidak dilatar belakangi oleh kesadaran yang dalam dan panjang. Kelahiran SDI dapat dikatakan sebagai suatu keharusan sejarah (an historical necessity) bagi perjalanan politik umat Islam Indonesia.

Untuk  melengkapi wawasan sejarah umat Islam khususnya pergerakan Syarekat Islam yang oleh serba sejarah telah dimuat beberapa tulisan diantaranya :  Sang raja tanpa mahkota : hidup dan perjuangan HOS Tjokroaminoto ,The Grand Old Man : Jalan Perjuangan H. Agus Salim ,Cita Dasar Pergerakan Syarekat Islam dan ,Pergerakan Sjarikat Islam sebagai Levend Organisme. Di bulan september ini dimana bulan bersejarah bagi Sjarikat Islam, laskar mim mempersembahkannya untuk pembaca,semoga bermanfaat.

 

%%%%%%%%%%

 

Pada bulan Mei 1912 seorang tokoh yang kelak akan menjadi ‘ruh’ pergerakan yaitu Oemar Said Tjokroaminoto bergabung atas undangan H.Samanhudi.  Oemar Said pada saat itu dikenal sebagai seorang yang radikal, anti feodalisme dan anti penjajah. Beliau dikenal sebagai seorang yang menentang kebiasaan-kebiasaan yang ada, menganggap sama dan sederajat dengan bangsa manapun, beliau tidak mau menghormat-hormat terhadap pejabat, bangsawan apalagi terhadap kaum penjajah. Di samping memiliki sikap yang demikian, Tjokroaminoto mempunyai keinginan kawan sebangsanya memiliki sikap yang demikian.

Anggaran Dasar baru Syarekat Islam bagi seluruh Indonesia disusun Tjokroaminoto, kemudian pada bulan september 1912 diajukan surat permohonan agar Sarekat Islam diakui kedudukannya sebagai badan hukum. Anggaran dasar baru menyebutkan bahwa tujuan Sarekat Islam adalah memajukan semangat dagang bangsa, memajukan kecerdasan rakyat dan hidup menurut perintah agama dan menghilangkan faham-faham keliru mengenai agama Islam.

Kehadiran Tjokroaminoto di SI merupakan dimulainya babak baru dalam organisasi pergerakan Indonesia. Orientasi gerakan berubah, dari orientasi sosial ekonomi menjadi organisasi yang berorientasi sosial politik . Perubahan nama dari SDI menjadi Sarekat Islam, merupakan indikasi transformasi organisasi dari yang berlatar belakang ekonomi kepada politik.. SI sebagai gerakan politik pada sejak tahun 1912 juga dikemukakan oleh John Ingleson dalam ‘Jalan Kepengasingan’ yang menyatakan bahwa pada tahun 1912, ia merupakan partai poltik Islam yang terkemuka dan selama beberapa tahun menjadi partai modern satu-satunya pada masa kolonial.

Pada tanggal 26 Januari 1913, diadakan Kongres I Sarekat Islam di Surabaya. Ribuan orang datang berbondong-bondong, jalan-jalan menuju Taman Kota di mana kongres diselenggarakan penuh sesak oleh orang. Ketua H. Samanhudi disambut besar-besaran, di stasiun beliau disambut dengan korps musik dan dibopong beramai-ramai menuju mobil jemputan. Menurut laporan Asisten Residen Kepolisian pada tanggal 12 Pebruari, menyebutkan bahwa massa yang hadir pada saat itu ditaksir antara delapan sampai sepuluh ribu orang.

Kongres tersebut dipimpin oleh Tjokroaminoto dan pada kongres itu beliau menyatakan bahwa Sarekat Islam bertujuan: “…Membangun kebangsaan, mencari hak-hak kemanusiaan yang memang sudah tercetak oleh Allah, menjunjung derajat yang masih rendah, memperbaiki nasib yang masih jelek dengan jalan mencari tambahan kekayaan”.

Kemudian pada tanggal 23 Maret tahun yang sama, kongres ke II dilaksanakan di Solo. Pada kongres itu H. Samanhudi terpilih sebagai ketua dan Tjokroaminoto sebagai wakil. Kongres tersebut dipimpin oleh Tjokroamonoto.

Sarekat Islam bagai aliran setrum tegangan tinggi yang menghentakkan seluruh syaraf kesadaran kaum muslimin bangsa Indonesia untuk segera mendobrak penjara-penjara yang telah mengurung seluruh eksistensi mereka berabad-abad.  Semangat perlawanan yanag muncul di mana-mana dipandang oleh Korver sebagai gerakan emansipasi kalangan Sarekat Islam, suatu cita-cita yang dihayati oleh para pemimpinya. Gerakan emansipasi tersebut meliputi:

a. Penolakan akan berbagai prasangka negative dan diskriminasi terhadap golongan pribumi.

Pada kongres di Bandung, Tjokroaminoto menyatakan: “…merupakan tugas Sarekat Islam untuk memprotes kata-kata dan perbuatan yang bermaksud merendahkan ‘de Inlandsche onderdanen’ …rakyat yang berdiam di desa-desa atau kampung-kampung terus menerus di sebut de kleine man (wong cilik), apakah sebutan ini sesungguhnya tepat?” “Tidak!, ucapan seperti itu atau pandangan –pandangan yang demikian sudah tidak pantas lagi didengar oleh suatu bangsa yang sedang mulai berevolusi dan yang sedang mulai meningkatkan dirinya!”.

b. Penilaian yang positif terhadap identitas diri sebagai bangsa

Identitas diri meliputi masalah keagamaan, seperti ungkapan yang melarang atau mengingkari agama sendiri, yaitu agama Islam. Harian Kaoem Muda pada tahun 1915 mengecam suatu perkawinan antara putri seorang Bupati dengan seorang Perwira Eropa yang tidak menganut agama Islam.

Kemudian identitas kebangsaan, seperti kecaman dan kritikan pedas yang dilancarkan terhadap orang Indonesia yang meminta persamaan status hukum dengan orang Eropa. Hal demikian dianggap sebagai pengkhiahat dan merendahkan bangsanya sendiri. Selama masih ada orang demikian yang merasa sok berlagak, apakah sesungguhnya yang dapat kita harapkan dari orang Eropa. Demikian tulis harian Kaoem Moeda. Identitas diri yang juga didengungkan adalah sebagai bagian dari bangsa Asia dengan suatu anggapan akan hancurnya peradaban Barat disusul dengan bangkitnya Asia sebagai kekuatan yang pernah memimpin dunia.

c. Cita-cita menentukan nasib sendiri dan politik.

Masalah tuntutan persamaan hak-hak politik secara gamblang dan terang-terangan diucapkan, dimulai ketika pemerintah Belanda bermaksud membentuk milisi pada tahun 1914. Tjokroaminoto dalam bulan september 1914, menolak rencana pembentukan milisi apabila tidak disertai perbaikan dengan perluasan hak-hak politik rakyat. Beliau juga berjanji (yang menurut Korver ‘janji samar-samar’) apabila Jawa diserang, SI tidak akan memberikan bantuan kepada agresor.Kemudian R. Ahmad mengemukakan bahwa SI menolak dengan keras terhadap rencana pembentukan milisi rakyat, sebelum Indonesia merdeka dan tidak mempunyai hak bicara menentukan perang dan damai, pada saat ini Indonesia masih dianggap sebagai ‘barang’ dan tidak mungkin ‘barang’ dapat mempertahankan diri, para pemiliknyalah yang harus mempertahankan barang. Sinar Jawa menulis bahwa mempertahankan tanah air adalah baik, tetapi pemerintah hendaklah memerintah rakyatnya dengan baik dan mengakhiri penindasan yang dilakukannya;bangsa Indonesia harus lebih dulu disamakan derajatnya dengan bangsa-bangsa lain.

G.J. Hazeu (Penasihat untuk Urusan Bumiputra) menyatakan bahwa kesadaran politik dan cita-cita otonomi bagi pemimpin-pemimpin SI semakin tumbuh dan bahwa sikap ini dengan cepat meluas pada anggata-anggotanya.

Fakta-fakta tersebut menunjukkan kesadaran politik seluruh lapisan masyarakat bahwa bangsa Indonesia tidak boleh pasif menerima nasib dijajah oleh kolonial Belanda tetapi harus bangkit menetukan nasibnya sendiri berhasil dilakukan SI.

Pada tahun 1915, Sarekat Islam telah memiliki 500 000 anggota,dan enam tahun kemudian yaitu tahun 1921 anggotanya telah mencapai dua juta orang serta telah terbentuk cabang-cabang SI di seluruh provinsi di Indonesia kecuali Irian Barat.

Kongres Nasional Pertama di Bandung, dihadiri oleh seluruh cabang Sarekat Islam yang meliputi  Jawa, Sumatra, Kalimantan, Bali dan Sulawesi. Kongres yang bersifat nasional ini bukan hanya pertama bagi Sarekat Islam, tetapi juga merupakan kejadian pertama kali dalam sejarah pergerakan politik di Indonesia. Hal ini tidak sekedar mencerminkan bahwa Sarekat Islam telah tersebar ke seluruh penjuru tanah air (yang kelak menjadi batas-batas kekuasaan wilayah Indonesia), tetapi juga mencerminkan suatu usaha yang sadar dari para pemimpin SI untuk menyebarkan dan menegakkan cita-cita nasionalisme dengan Islam sebagai ajaran yang dianggap dasar dalam pemikiran tersebut.

Kata ‘nasional’ diperdengarkan kepada khalayak ramai untuk pertama kalinya. Menjelaskan kata ‘nasional’ Tjokroaminoto berkata bahwa ia merupakan suatu usaha untuk meningkatkan seseorang pada tingkat  natie …usaha pertama kali untuk berjuang menuntut pemerintahan sendiri atau sekurang-kurangnya agar orang-orang Indonesia diberikan hak untuk mengemukakan suaranya dalam masalah-masalah politk. Kemudian dalam pidatonya Beliau mengemukakan lebih spesifik mengenai bagaimana seharusnya hubungan antara Indonesia dengan Belanda, sebagai berikut:

“Tidaklah layak Hindia –Belanda diperintah oleh Holand, Zoals een landheer zijn percelen beheert (sebagai tuan tanah yang menguasai tanah-tanahnya). Tidaklah wajar untuk melihat Indonesia sebagai sapi perahan yang diberikan makanan hanya disebabkan oleh susunya. Tidaklah pada tempatnya untuk menganggap negeri ini sebagai suatu tempat di mana orang-orang datang dengan maksud mengambil hasilnya.  Keadaan yang sekarang yaitu negri kita diperintah oleh suatu Staten-General yang begitu jauh tempatnya nun di sana…dan pada saat ini tidaklah lagi dapat dipertanggung jawabkan bahwa penduduknya terutama penduduk pribumi, tidak mempunyai hak untuk berpartisipasi di dalam masalah-masalah politik, yang menyangkut nasibnya sendiri….Tidak bisa lagi terjadi bahwa seseorang mengeluarkan undang-undang dan peraturan untuk kita tanpa partisipasi kita, mengatur hidup kita tanpa kita”.

Korver menyatakan bahwa Kongres SI merupakan kesempatan pertama dalam sejarah Indonesia yang memungkinkan manusia Indonesia dari berbagai bagian kepulauan Indonesia bersama-sama melaksanakan politik dan bertukar fikiran mengenai bermacam-macam permasalahan.

Berdasarkan kenyataan di atas, maka di Indonesia pada awal abad ke XX tahun 1915 M Sarekat Islam satu-satunya organisasi gerakan politik yang telah berhasil dan mampu menggerakan kesadaran politis dan menyelenggarakan kongres tingkat nasional I (pertama) di Bandung/Jawa Barat .Setelah melaksanakan Kongres Nasional pertama di Bandung, kemudian disusul Kongres Nasional II (1917).

Kongres Nasional ke II diselenggarakan di Jakarta melahirkan Program asas dan program Tandzim. Keterangan Asas (Pokok) mengemukakan kepercayaan Centraal Sarekat Islam bahwa: “Agama Islam itu membuka rasa pikiran perihal persamaan derajat manusia…dan bahwasannya itulah sebaik-baiknya agama buat mendidik budi pekertinya rakyat…Partai juga memandang agama sebagai sebaik-baiknya daya upaya yang boleh dipergunakan agar jalannya budi akal masing-masing orang itu ada bersama-sama budi pekerti….dan memperjuangkan agar tambah pengaruhnya segala rakyat dan golongan rakyat…di atas jalannya pemerintahan dan kuasanya pemerintah yang perlu akhirnya akan boleh mendapat kasa pemerintah sendiri (Zelf bestuur).

Sesungguhnya mulai menampak betul-betul sifat, maksud dan tujuan “Syarikat Islam” ialah ketika sudah ditetapkan Program-Asas (Beginsel-program) dan Program-Pekerjaannya (Program van Actie) di dalam Kongresnya pada tahun 1917 di Batavia (DJakarta). Maksud Pergerakan S.I : akan menjalankan Islam dengan seluas-luas dan sepenuh-penuhnya, supaya kita mendapat suatu Dunia Islam yang sejati dan bias menurut kehidupan Muslim yang sesungguh-sungguhnya.

Program kerja dibagi atas delapan bagian yaitu: Mengenai politik Sarekat Islam menuntut didirikannya dewan-dewan daerah, perluasan hak-hak Volksraad dengan tujuan untuk mentransformasikan menjadi suatu lembaga perwakilan yang sesungguhnya untuk legelatif. Sarekat Islam juga menuntut penghapusan kerja paksa dan sistim izin untuk bepergian. Dalam bidang pendidikan, SI menuntut penghapusan peraturan diskriminatif dalam penerimaan murid di sekolah-sekolah. Dalam bidang agama, SI menuntut dihapuskannya segala peraturan dan undang-undang yang menghambat tersiarnya agama Islam. Sarekat Islam juga menuntut pemisahan lembaga kekuasaan yudikatif dan eksekutif dan menganggap perlu dibangun suatu hukum yang sama bagi menegakkan hak-hak yang sama di antara penduduk negeri. Partai juga menuntut perbaikan di bidang agraria dan pertanian dengan menghapuskan particuliere landerijen (milik tuan tanah) serta menasonalisasi industri-industri monopolistik yang menyangkut pelayanan dan barang-barang pokok kebutuhan rakyat banyak. Dalam bidang keuangan SI menuntut adanya pajak-pajak berdasar proporsional serta pajak-pajak yang dipungut terhadap laba perkebunan. Kemudian SI menuntut pemerintah untuk memerangi minuman keras dan candu, perjudian, prostitusi dan melarang penggunaan tenaga anak-anak serta membuat peraturan perburuhan yang menjaga kepentingan para pekerja dan menambah poliklinik dengan gratis.

Dalam Kongres Nasional Ke II ini terlihat bahwa dalam tubuh SI ada kubu baru yang menyusup (infiltrasi) sehingga menjadi konflik antara kubu Islam versus kubu Komunis . (SI Cabang Semarang) dan dalam Kongres Nasional tahun 1919 terjadi puncak konflik . Komunisme pertama kali diperkenalkan oleh Hendricus Josephus Fransiscus Marei Sneevliet. Dia memulai karirnya sebagai seorang penganut mistik Katholik tetapi kemudian dia beralih ke ide-ide sosial demokratis revolusioner. Sneevliet datang ke Hindia pada ahun 1913 setelah mengalami masa ramai dan penuh angin topan di SDAP (Sociaal Democratische Arbeiders Partij) dan gerakan-gerakan buruh yang mempunyai hubungan dengan SDAP, kemudian dia menjadi simpatisan SDP (Sociaal Demokratische Partij), perintis Partai Komunis, pecahan SDAP. Dia kemudian bertindak sebagai agen Komunis Internasional (Komintern) di China dengan nama samaran G. Maring. Kemudian dia menetap di Surabaya selama dua bulan dan menjadi pemimpin redaksi Handelsblad, kemudian menjadi sekretaris Kamar Dagang di Semarang. Di Semarang Sneevliet mendirikan VSTP (Vereeniging Spoor en Tramwegpersoneel) Serikat Buruh dan Trem sebuah gerakan radikal dimana ia kelak bertemu dengan Semaun, sebelum ia memprakarsai berdrinya ISDV (Indsche Sociaal Democratische Vereniging) bersama Ir. Adolf Baars. Partai kecil beraliran kiri ini dengan cepat akan menjadi partai komunis pertama di Asia yang berada di luar Uni Soviet.Sejak datang ke Hindia dia sanga tertarik dengan gerakan-gerakan buruh, untuk menjalin hubungan dengan gerakan politik Indonesia, ia mulai menerbitkan Het Vrije Woord (Kata yang bebas). Anggota ISDV pada mulanya hampir seluruhnya orang Belanda, kemudian sekitar tahun 1914-15 partai ini menjalin persekutuan dengan Insulinde (Kepulauan Indonesia), sebuah partai yang didirikan tahun 1907 dan setelah tahun 1913 menerima sebahagian besar anggota Indische Partij yang berkebangsaan Indo-Eropa yang radikal. Tetapi organisasi ini bukanlah merupakan media ideal bagi ISDV untuk meraih rakyat sebagai basis utamanya, oleh sebab itu ISDV mulai berpaling ke SI. Pemimpin-pemimpin muda SI yang radikal di tarik oleh Sneevliet dan Baars ke ISDV dan dimatangkan dalam arti sosialis-revoluioner. Orang terpenting dari kelompok ini adalah Semaoen yang sangat berjasa bagi organisasi SI cabang semarang melalui garis sosialis., juga Alimin di Batavia (Jakarta).

Sebelum diselenggarakan Kongres Nasional SI Pertama di Bandung, sejumlah aktivis ISDV bangsa pribumi sudah bergerak secara aktif di SI dan Semaun hadir pada saat itu. Deliar Noer menyatakan bahwa tujuan ISDV ialah memancing rakyat banyak untuk memperoleh dukungan-dukungan kepemimpinan mereka dalam rangka pergerakan rakyat pada umunya. Mereka merasa cukup apabila kepercayaan rakyat terhadap Sarekat Islam goncang. Sebagaimana yang dikatakan Adolf Baars,“…Kami tahu…perdebatan ini telah menyebabkan kebingungan yang besar di kalangan orang-orang Indonesia…dan bahwa masalah ini banyak diperkatakan. Dengan itu saja, tujuan kita pun telah berhasil”. Kegiatan ISDV di dalam lingkungan Sarekat Islam mengoncangkan partai seperti dalam masalah-masalah Indie Weerbaar, Volksraad dan perburuhan. Para pemimpin SI yang anti komunis menaruh curiga bahwa kegiatan-kegiatan ISDV mendapat sokongan dari pihak pemerintah Belanda dalam rangka usaha untuk mencegah pengikut partai yang tumbuh cepat dan hal ini telah menyebabka timbulnya ketakutan di kalangan orang Belanda. Abdul Moeis menulis bahwa Sneevliet seolah-olah dikirim dengan sengaja oleh pemerintah Belanda untuk memecah gerakan rakyat yang merupakan bahaya besar bagi tanah air Belanda.

Pengaruh kiri ke dalam Sarekat Islam semakin bertambah besar, jumlah anggota SI Semarang berkembang pesat mencapai 20.000 orang pada tahun 1917 dan di bawah pengaruh Semaoen mengambil garis keras anti kapitalis yang kuat. Cabang ini semakin hari semakin lantang menyerang SI terutama masalah Indie Weerbaar dan Volksrad sebagaimana telah dijelaskan, dan dengan sengit menyerang kepemimpinan Central Sarekat Islam, terutama terhadap Salim dan Moeis.Pada bulan November 1918 Sneevliet dibuang, sementara Adolf Baars pulang pada bulan Maret 1919. Kepergian pemimpin-pemimpin Belanda menjadikan Semaoen dan Dharsono yang terkenal mahir dalam teori, tampil sebagai pemimpin. Fokus policy-nya adalah hubungan dengan Sarekat Islam, dalam hal ini masalah infiltrasi untuk menancapkan pengaruh dalam SI. Pada tahun 1918, Semaoen terpilih sebagai pengurus pusat CSI. Pada masa itu SI cenderung terwarnai oleh pentolan-pentolan ISDV,kegiatan pun bergeser kemasalah-masalah perburuhan. Pada kongres SI tahun 1918 disetujui mengenai pemogokan-pemogokan buruh yang teratur untuk memperbaiki nasib, mencari keadilan dan melawan pebuatan sewenang-wenang (dan) akan memajukan ikhtiar kaum buruh buat memperbaiki nasib, mencari keadilan dan melawan perbuatan sewenang-wenang itu untuk menegakkan keadilan dan untuk menghapuskan tindakan-tindakan sesuka hati.  Partai  juga akan  membantu pemogokan–pemogokan. Pada kongres tahun 1919 partai memberikan pengarahan tentang cara-cara mogok, dimana pemogokan hanya dilakuakan apabila cara-cara damai tidak berhasil dan apabila menurut perhitungan kemenangan dapat diraih oleh pihak buruh. Pemogokan pada mulanya harus dibatasi pada suatu tempat, kemudian diperluas ketempat lain dan pada akhirnya seluruh Tanah Air, bergantung kepada perlu tidaknya tekanan ditingkatkan sebagai sokongan terhadap tuntuan pekerja.

Pada Kongres Nasional SI ke VII Oktober 1921 di Surabaya tersebut SI Merah (Komunis) secara organisatoris dikeluarkan dari tubuh SI. Kubu Komunis Yang dikeluarkan dari kubu SI (SI Putih) tahun 1921 menjadi PKHT dan pada tahun 1924 M menjadi PKI. Berontak tahun 1926 dan 1927 di Sumatra, 1948 di Jawa/Madiun, 1965 G30S di Jakarta.

Komunisme bagi Sarekat Islam seperti duri dalam daging, semenjak awal datangnya faham ini membidik SI sebagai sasaran untuk mensosialisasikan ide-idenya. Sarekat Islam yang berbasis rakyat kecil, adalah lahan subur bagi komunisme. Ketika Sun Yat Sen memimpin revolusi cina, Lenin sangat terkesan dan menaruh harapan besar bagi perkembangan komunisme di Asia.  Oleh sebab itu Lenin memerintahkan kontak yang lebih dekat dengan gerakan emansipasi di Timur khususnya negeri-negeri yang dipengaruhi Hinduisme. Perkembangan yang ‘menggembirakan’ komunisme di Asia digambarkan lewat ungkapan Lenin yang dicatat oleh G. Sinovjet dalam Die Weltpartei des Leninismus: “Apa yang terjadi di Barat memang sangat penting, tetapi apa yang terjadi di Timur lebih penting, karena membuka jalan untuk berreovolusi”. Revolusi Rusia (revolusi Bolsjewik),  pada tahun 1917, memberikan dorongan kaum komunis diseluruh dunia untuk menyusun langkah-langkah menuju revolusi dunia.  Pada tahun 1918 SDAP  mentransformasikan dirinya menjadi Parati Komunis Belanda.

Upaya-upaya untuk mengeluarkan orang-orang Komunis diprakarsai oleh Agus Salim dan Moeis yang memandang bahwa perbedaan antara yang terjadi adalah perbedaan prinsip. Oleh sebab itu Komunisme merupakan tantangan utama bagi Sarekat Islam dalam bidang ideologi.  Neratja edisi 18 Oktober 1921 memuat tulisan Agus Salim yang menyatakan bahwa tindakan disiplin haruslah juga diambil terhadap PKI (Partai Komunis India; maksudnya Hindia) karena hal ini sangat perlu untuk menegakkan dasar partai, yaitu Islam. Panetrasi dassar-dasar bukan Islam mengakibatkan partai melemah. Kemudian Salim berkeyakinan bahwa tidak perlu mencari isme-isme lain yang akan mengobati pergerakan, obatnya ada dalam asasnya sendiri, asas yang lama dan kekal yang tidak dapat dimubahkan orang sunggupun sedunia memusuhi dengan permusuhan lain atau tazim, asas itu adalah Islam.  Segala kebajikan yang terdapat dalam suatu isme, ada dalam Islam dan sesuatu kecelaan atau kenistaan dalam suatu isme tidak terdapat dalam Islam.

Kongres Nasional VII digelar di Surabaya dihadiri oleh 36 cabang SI. Tjokroaminoto tidak hadir pada kongres tersebut, sehubungan dengan penahanan yang dilakukan pemerintah Belanda dengan tuduhan bahwa Tjokroaminoto telah memberikan keterangan palsu dalam kasus afdeiling B.

Seamoen dan Tan malaka berusaha mempengaruhi keputusan sidang agar tidak menyetujui kebijakan disiplin partai, melalui pidatonya yang masing masing diberi waktu lima menit. Pada pidatonya Tan malaka menyatakan sebagai berikut :

“Saya telah mengemukakan berbagai hal yang sama-sama ada pada PKI dan CSI. Saya menunjuk persatuan antara kalangan Muslimin di Kaukasus, Persia, Bukhara dan daerah-daerah lainnya dengan kaum Bolsycwik. Persatuan dengan kaum buruh Islam itu dianggap oleh kaum kapitalis Inggris sebagai suatu bahaya bagi penindasannya. Itulah sebabnya  Pemerintah Inggris sampai minta dua kali dengan sangat kepada pemerintah Soviet  menghentikan propagandanya di negara-negara Islam. Ini menggambarkan betapa sadarnya   kaum Islam di luar  Hindia dan benar-benar memahami siapa kawan dan siapa lawan mereka di dunia ini. Dikongres saya minta pemimpin-pemimpin CSI membujuk anggotanya supaya tidak mau menerima disiplin partai.”

Pada tahun 1921 M  HOS Cokroaminoto ditangkap dan ditahan oleh Belanda. Penahanan terhadap Tjokroamnoto terjadi dilatarbelakangi peristiwa-peristiwa kerusuhan di Toli-toli, Sulawesi yang mengakibatkan ditangkapnya  Moeis dengan tuduhan telah Mengadakan provokasi terhadap masyarakat Sulawesi. Kemudian kejadian berdarah di Cimareme pada tanggal 7 Juli 1919.

Pada pemeriksaan mengenai kasus tersebut terungkap suatu organisasi rahasiah bernama Sarekat Islam Afdeling-B. Beberapa pengurus SI, seperti Sosrokardono dituduh terlibat dalam perkara tersebut. Kemudian Tjokroaminoto ditangkap pada bulan September 1921 dengan tuduhan memberikan keterangan palsu pada pengadilan Sosrokardono. Tjokroaminoto dibebaskan pada bulan April 1922.

Penangkapan serta penahanan terhadap Tjokro ini mendapat reaksi keras bahkan dari kalangan pers Belanda dan Dewan Rakyat yang menyatakan bahwa tuduhan itu adalah rekayasa dengan tujuan memfitnah.

Note :

Cabang-cabang SI sampai tahun 1916 telah dibuka di: Banten (1914) yaitu: Serang, Labuan dan Rangkasbitung. Jakarta (1913), meliputi: Jakarta, Tangerang, Jatinegara dan Bogor. Priangan, meliputi: Bandung, Cimahi, Cianjur, Sukabumi, Tasik Malaya, Cikalong Kulon, Majalaya dan Manonjaya. Cirebon: Cirebon, Indramayu, Ciamis, Majalengka, Kuningan, Jatibarang,Karangampel dan Losarang. Tegal (1913): Tegal, Pemalang, Brebes dan Patarukan. Banyumas (1913): Banjarnegara, Purbolinggo, Cilacap, Sukaraja dan Purwokerto. Pekalongan (1913) : Pekalanongan dan Batang. Bagelan (1913): Wonosobo, Kutoarjo, Purworejo, Gombong dan Kebumen. Kedu (1913): Parakan, Muntilan, Tumanggung dan Magelang. Semarang (1912): Kdus, Demak, Purwodadi, Semarang, Sukaraja, Salatia, Kendal, Ambarawa, Pati, Jepara, Godong dan Kaliwungu. YogyakartaSurakarta(1912): Surakarta, Sragen, Boyolali, Klaten, Batureno, Karanganyar, Delanggu dan Selo. RembangMadiun (1912): Madiun, Ngawi, Ponorogo, Magetan dan Pacitan. Kediri (1913): Kediri, Tulungagung, Gurah, Blitar, Pare, Nganjuk, Kertosono, Padangan dan Wlingi. Surabaya (1912): Surabaya, Sidoarjo, Jombang Mojokerto, Gresik, Sidayu dan Babad. MaduraPasuruan (1913): Malang, Bangil, Kapanjen dan Pasuruan. Probolinggo (1914): Probolinggo, Kraksaan, Paiton, Lumajang dan Gading. Besuki (1913): Banyuwangi, Jember, Situbondo, Bondowoso, Besuki dan Kalisat. Bali (1915): Jembrana. Distrik Lampung (1914): Telukbetung, Sukadan, Kota Bumi, Mangala, Aji Kagungan dan Negara Tulung Bawang. Bengkulu (1914): Bengkulu dan Kroe. Palembang (1915): Palembang, Muara Enim, Lahat, Tebing Tinggi, Pagar Alam, Muara Bliti, Pulau Panggung, Menanga, Burai dan Batu Raja. Jambi (1916): Jambi, Muara Tembesi, Muara Tebo, Bangko dan Sarulangun Jambi. Riau (1914) : Indragiri. Sumatra Barat (1916) : Padang. Tapanuli (1916): Sibolga Padang Sidempuan, Barus dan Gunung Sitoli.  Sumatra Timur (1914): Medan, Labuan Bilik, Serdang, Langkat, Tanjung Balai dan Tebing Tinggi. Aceh (1915): Kota Raja, Singkel dan Sinabang. Kalimantan (1913): Samarinda dan Banjarmasin. Kalimantan Tenggara (1914): Negara, (1913): Yogyakarta dan Kretek. (1913): Rembang, Bojonegoro, Tuban, Cepu, Sidorejo, Blora, Randublatung, Jatirogo, Lasem dan Singgahan. (1913): Sepanjang, Sampang, Sapudi, Bangkalan, Sumenep, Pamekasan dan Prenduan. Kendangan, Barabai, Pasir, Kota Baru, Pleihari, Martapura, Muara Tewe, Alibiyu, Amuntai, Rantau, Sampit, BakumpaiParingin, Klua, Balikpapan, Tenggarong, Kota Waringin dan Tabalong. Kalimantan Barat (1915): Pontianak dan Sulawesi (1914): Ujung Pandang (Makasar) dan Donggala. Korver, Op. Cit. Hal 227-230

Sumber  : serbasejarah.wordpress.com

About laskarmim

Menuju masyarakat indonesia yang adil dan sejahtera

Posted on September 3, 2011, in Sejarah Nasional. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s