Ngaji Tjokro di Tempo

Tjokroaminoto adalah generasi pertama pemimpin pergerakan. Tjokro juga jurnalis dan orator ulung. Figurnya penting karena dialah yang menciptakan standar bagaimana seharusnya seorang pemimpin pergerakan.  Sebagai orator ulung, Tjokro dikaruniai suara bariton yang mantap sehingga dapat didengar ribuan pendengarnya tanpa pengeras suara, ia pembicara yang menarik dan bersemangat. Bicaranya lempeng, lurus dan tegas. Ia menguasai bahasa Belanda, Inggris, Jawa dan Melayu. “Pidatonya membawa khalayak menjadi gefascineerd, mabuk tergila-gila. Meski demikian, pidato Tjokro disebut-sebut tak mengandung humor.

Oetoesan Hindia merupakan surat kabar syarekat Islam yang terbit pertama kali pada bulan Desember 1912 di Soerabaya adalah corong bagi pergerakan SI. Tjokro adalah direktur administrasi dan sekaligus pemimpin redaksinya. Tjokro adalah jurnalis yang rutin menulis di Oetoesan Hindia ini paling tidak satu kali dalam sebulan. Topiknya beragam, mulai persoalan politik, hukum, hingga perdebatan antara paham sosialisme dan Islam. Saat SI berubah menjadi Partai Syarekat Islam Indonesia, Tjokro menerbitkan Fadjar Asia bersama Agus Salim, adapun redakturnya adalah Kartosoewirjo. Berkantor di Pasar Senen, Batavia. Koran ini menyebut dirinya sebagai surat kabar agama, adab dan politik. Tjokro sesekali mengisi halaman muka. Pada 21 Juni 1929, misalnya, Tjokro menulis soal budi pekerti Islam buat kaum miskin.

Pada tahun 1914, di Doenia Bergerak, Tjokro menulis sajak tentang perjuangan menuntut kesetaraan :

Lelap terus, dan kau pun dipuji sebagai terlembut di dunia

Darahmu dihisap dan dagingmu dilahap sehingga hanya kulit tersisa

Siapa pula tak memuji sapi dan kerbau?

Orang dapat menyuruhnya kerja, dan memakan dagingnya.

Tapi kalau mereka tahu hak-haknya, orangpun akan menamakannya pongah, karena tidak

mau ditindas.

Bahasamu terpuji halus diseluruh dunia, dan sopan pula.

Sebabnya kau menegur bangsa lain dalam bahasa kromo dan orang lain menegurmu dalam

bahasa ongko.

Kalu kau balikan, kau pun dianggap kurang ajar.

Tjokroaminoto ingin membumikan perjuangan bersandar pada Islam sebagai basis ideologi. Kehadiran Tjokro mengusung konsep Islam membuat Syarekat Islam melaju menjadi kekuatan politik ideologis. Gerakan Tjokro sangat mendominasi hingga 14 tahun usia Syarekat Islam.Semua landasan perjuangan Tjokro dan Syarekat Islam tertuang dalam buku Reglement Umum bagi Umat Islam, Culture dan Adat Islam, Tafsir Program Azas dan Program Tandhim.

Menurut Tjokro, kaum muslimin harus dididik menjadi muslim sejati untuk mencapai cita-cita kemerdekaan umat. Dalam tulisan yang dimuat di Sendjata Pemoeda, surat kabar pemuda PSII, Tjokro menegaskan : Keutamaan, kebesaran, kemuliaan, dan keberanian bisa tercapai lewat ilmu tauhid, ilmu tentang ketuhanan.

Dalam buku H.O.S. Tjokroaminoto : Hidup dan Perdjuanganndja karya Amelz tahun 1952, diceritakan suatu hari Tjokroaminoto sakit keras hingga tak sadarkan diri, Tak ada tabib yang mampu mengobatinya. Pada suatu malam, saat terbaring lemah, sekonyong-konyong Tjokroaminoto membaca al-Qur’an dengan fasih. Suaranya nyaring dengan intonasi antara keras dan lemah. Tak berapa lama kemudian ia duduk lalu memekik :

“Ada tamu, Ada Tamu.” … “Siapa?” Seorang kerabat yang menungguinya bertanya… “Rosulullah. Rosulullah!”. Tjokroaminoto pingsan. Kejadian yang sama terulang keesokan harinya. Ajaibnya, penyakit Tjokroaminoto berangsur-angsur berkurang. Disela-sela masa penyembuhan, dia meminta A.M. Sangadji, salah satu orang dekatnya, menuliskan pengalaman itu. Kepada Sangadji, dia mengatakan telah diberi pelajaran membaca beberapa ayat Al-Qur’an oleh Rosulullah.

Tulisan Sangadji itu kemudian menjadi buku program asas (dasar) dan tandhim (perjuangan) Partai Syarekat Islam Indonesia. Buku setebal 99 halaman ini adalah penafsiran Tjokroaminoto terhadap ajaran Islam. Lewat tulisan ini dia berusaha menjawab dan mengatasi persoalan yang berkembang lewat pergerakan Partai SI Indonesia.

Dalam konstruksi sejarah di Indonesia, hadji Oemar Said Tjokroaminoto selalu ditempatkan sebagai “godfather” dari para founding father di Republik ini. Soekarno yang mewakili golongan nasionalis, Musso-Alimin yang komunis, dan Kartosoewirjo yang mengusung ideologi Islam. Mereka semua pernah tinggal di rumah Tjokroaminoto di Gang Peneleh VII, Soerabaya, sekaligus berguru kepada tokoh yang dijuluki “Raja Jawa tanpa Mahkota” itu. Meskipun demikian menurut Takashi Shiraishi bahwa mereka dekat, tapi bukan berarti anak-anak muda itu terpengaruh pemikiran Tjokro. Mereka menemukan sendiri pemikirannya dalam perjalanan hidup masing-masing. Masa bersama Tjokro hanyalah satu bagian, bahkan bisa dibilang bagian kecil saja dalam hidup mereka.

Tjokroaminoto sakit-sakitan sejak 1933, Seusai kongres Banjarnegara, dia dinasehati para rekannya supaya beristirahat dan mengurangi aktivitasnya. Namun Tjokroaminoto tak mengindahkannya. Pada Desember 1934 kesehatannya memburuk : beliau lumpuh. Senin Kliwon, 10 Ramadhan 1353 H atau 17 Desember 1934, Tjokroaminoto menghembuskan napas terakhir dipangkuan aktivis Partai Syarekat Resoramli.

Di usianya yang tak panjang, Oemar Said Tjokroaminoto meletakan fondasi awal bangunan Republik. Meninggalkan kemapanan keluarga bangsawan, ia meretas jalan kesetaraan. Dialah “bapak” para tokoh pergerakan.

https:serbasejarah.wordpress.com

About laskarmim

Menuju masyarakat indonesia yang adil dan sejahtera

Posted on September 2, 2011, in Sejarah Nasional, Tokoh. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s