Wujudkan Jakarta Raya,Indonesia Terbilang

jika konsep Ibukota Raya atau Jakarta Raya dengan proyek utama kanal Tirta Sangga Jaya (TSJ) diwujudkan, tidak lama bangsa ini akan dihitung keberadaannya (terpandang) oleh dunia internasional. Keyakinan itu dikemukakan Syaykh Al-Zaytun Abdussalam Panji Gumilang dalam percakapan dengan Wartawan Berita Indonesia Ch. Robin Simanullang dan Marjuka Situmorang (10/9/2010). Syaykh diminta pandangannya perihal tiga opsi pemindahan ibukota yang ditawarkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Bayangkan, kata Syaykh Panji Gumilang, kapal dari Karawang bisa masuk Bogor dan keluar Tangerang. Dari Tangerang keluar dari Karawang. Semua kawasan yang di dalam lingkaran kanal raya itu terintegrasi menjadi Ibukota Raya atau Jakarta Raya. Berikut ini petikan percakapan tersebut:

Bagimana pandangan Syaykh tentang tiga opsi yang ditawarkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tentang pemindahan ibukota RI?
Kalau Pak SBY menawarkan opsi perpindahan ibukota, sesungguhnya kalau mau menjalankan gagasan kanal raya Tirta Sangga Jaya, itu berarti Jakarta semakin besar, menjadi Jakarta Raya. Hal itu sudah mencakup tiga atau dua opsi yang ditawarkan Presiden.

Jadi bukan dipindahkan tapi dibenahi?
Ya, diluaskan. Jadi bahasanya bukan dipindahkan atau dibenahi, tapi diperluas. Jakarta menjadi ibukota raya, menjadi Jakarta Raya.

Bagaimana dengan konsep Megapolitan yang diusulkan Sutiyoso?
Gagasan yang sangat baik, tapi bahasanya jangan Megapolitan lagi. Tetap Jakarta, Jakarta Raya. Seperti Indonesia Raya. Raya itu ‘kan besar. Jadi sesuai dengan Indonesia Raya, Nusantara Raya, Jakarta Raya. Karena jika mengikuti konsep pembangunan terusan (kanal dan waduk) Tirta Sangga Jaya (Jaya – Jakarta Raya) luas wilayah bertambah, yakni 60 km dari utara ke selatan bagian timur, 60 km dari timur ke tengah, 60 km dari tengah ke barat dan 60 km dari selatan ke utara, jadi 240 km.

Jika Tirta Sangga Jaya itu diwujudkan, alangkah hebatnya, kapal bisa berlayar. Mau berlabuh di Bogor Raya, nggak macet lagi. Jadi semua wilayah dikasih nama raya. Jakarta Raya, Jakarta Timur Raya, Bekasi Raya, Tangerang Raya, Kecamatan Tebet Raya, Kecamatan Kebayoran Lama Raya, Kecamatan Kebayoran Baru Raya, Kecamatan Tanah Abang Raya, dan sebagainya.

Selain itu semua bangunan harus menjulang, perumahan juga menjulang. Sehingga penggunaan lahan lebih sedikit. Saya yakin, demi persatuan Indonesia Raya, rakyat akan mendukung hal itu.

Jadi, Tirta Sangga Jaya itulah yang menjadi perintis, proyek pertama?
Oh, iya. Sudetan Banjir Kanal Timur dan Barat yang sekarang sudah ada, kan sudah lumayan. Apalagi kalau TSJ yang lebarnya 100 meter dan multifungsi.

Jadi yang dipindah justru pusat-pusat bisnis ya?
Tidak juga dipindah. Nanti dia akan mencari sendiri. Dibuka dan ditata ruangnya, peruntukannya ditata dengan jelas. Istana jangan dipindah dulu, sampai punya tempat yang bagus, nanti dibangun sendiri.

Kemarin ada wacana baru lagi untuk mewujudkan kemajuan itu, harus ada konsensus Jakarta. Apanya yang dikonsensuskan? Wong kemajuan itu tanpa konsensus pun bisa. Contohnya, perkampungan umum nelayan dijadikan pusat perdagangan. Kalau langsung dibuat, ya jadi. Tapi kalau hanya diwacanakan dan dikonsensuskan, ya tidak jadi, tidak ada. Nggak perlu konsensus untuk seperti itu.

Bagaimana dengan sistem dan sumber pembiayaannya?
Ya, ditanggung bersama. Jangan dari utang luar negeri. Di tanggung bersama rakyat. Rakyat punya kemampuan untuk itu.

Bagaimana caranya?
Misalnya dengan membeli sahamlah. Saham, obligasi atau surat berharga yang dibuat oleh negara. Bersama-sama utang dibuat oleh rakyat, kalau ada faedahnya, untuk rakyat. Dan jangan dijual ke luar negeri atau orang asing, tapi kepada rakyat saja.

Karena obligasi yang dijual oleh negara pun banyak orang asingnya yang beli?
Itulah. Sekarang harus bangsa sendiri yang beli. Sebab kalau konsep Jakarta Raya dengan proyek utama kanal Tirta Sangga Jaya ini jadi, tidak lama bangsa ini akan dihitung keberadaannya oleh dunia internasional. Bayangkan kapal dari Karawang bisa masuk Bogor dan keluar Tangerang. Dari Tangerang keluar dari Karawang. Terusan Suez bisa dibuat dari sesuatu yang awalnya tidak mungkin. Ternyata manfaatnya besar. Tentu, Indonesia sebagai bangsa besar pun, bisa! Makanya yang di dalam lingkaran kanal raya itu menjadi Jakarta Raya. Atau kalau tidak mau disebut Jakarta Raya, ya Ibukota Raya.

Tapi bagaimanapun untuk ini diperlukan kesepakatan bersama atau konsensus?
Konsensus yang diperlukan sekarang, jangan ada perpecahan. Semua lapisan masyarakat harus sepakat, baru kemajuan tercipta. Dalam kaitan ini, ide-ide cemerlang pimpinan itu mestinya banyak untuk itu. Bagaimanapun pimpinan itu menentukan, di negara sebebas apa pun, pemimpin itu sangat menentukan. Betapa hebatnya rakyat AS menentang perlindungan kesehatan itu. Tapi, karena pimpinannya punya kemauan dahsyat, yang tadinya tidak mungkin menjadi mungkin.

Jadi bermuara kepada kepemimpinan juga?
Satu di antaranya, tidak semuanya.

Pemimpin punya peran paling strategis?
Tidak semuanya, salah satu. Termasuk untuk menciptakan model Jakarta Raya seperti yang tadi itu, asal ada keberanian. Sebab nanti hasilnya juga untuk rakyat banyak.

Pasti ada yang protes itu?
Oh, itu pasti. Hidup itu tidak ada yang sepi dari protes.

Bagaimana jika presidennya takut diprotes?
Nggak, sesungguhnya tidak harus presiden saja. Presiden itu didukung lingkungannya. Lingkungannya menasehatkan a, b, c, d, karena itu penting. Macet itu juga ada kepentingan.

Tirta Sangga Jaya ini sebuah gagasan besar. Maka untuk mewujudkannya diperlukan landasan hukum, tidak cukup hanya setingkat Keputusan Presiden?
Oh, ya. Sebaiknya dalam ketetapan MPR sehingga tidak tergantung kepada siapa presidennya. Siapa presidennya, siapa gubernurnya, itu urusan politiklah. Kalau sekadar undang-undang, itu masih lemah. Sebaiknya di atas undang-undang.

Jadi kalau ibukota raya itu Jakarta Raya. Gubernur harus setingkat menteri?
Ya, bisa saja. Sangat bisa. Malah istilahnya itu bukan setingkat menteri. Gubernurnya itu, sebaiknya setingkat menteri koordinator.

Kalau menteri koordinator tidak eksekutor?
Kalau untuk Jakarta Raya, bisa eksekutor. Menteri Jakarta Raya itu tingkatannya lebih tinggi. Tidak boleh dihalang-halangi oleh menteri yang lain-lain sebab koordinator.

Jadi menteri Pekerjaan Umum (PU), misalnya, di bawahnya, gitu?
Di bawah koordinasinya.

Dia bisa mengundang dan memimpin rapat yang dihadiri para menteri. Jadi Menteri Khusus?
Iya, Menteri Khusus di jabatan kepresidenan.

Dengan kewenangan bisa mengundang menteri terkait. Memimpin rapat menteri terkait khusus untuk Jakarta Raya?
Jadi hampir-hampir seperti wakil presiden yang berotoritas. Kalau wakil presiden ‘kan tidak terlalu berotoritas.

Yang punya otoritas mengambil keputusan, memimpin koordinasi antarkementerian untuk hal yang terkait dengan Jakarta Raya?
Ya. Bahasanya, Menteri Khusus Jakarta Raya. Bukan gubernur lagi.

Kalau posisinya menteri khusus, berarti presiden yang memilih bukan dipilih rakyat lagi?
Iya, tidak dipilih rakyat. Andainya dipilih pun, dibuatkan undang-undang. Tapi bisa tidak dipilih rakyat.

Bisa-bisa jadi walikotanya yang dipilih rakyat nanti.
Oh, ya. Dan nanti walikotanya akan banyak dan wilayahnya besar. Bayangkan Karawang masuk, Bekasi masuk, Tangerang masuk, Depok masuk, setengah Bogor masuk, Tangerang setengah, Banten sebagian masuk.

Jadi, nanti Bandara Soekarno-Hatta, benar-benar di Jakarta Raya. Kemudian lapangan-lapangan seperti Istora Soekarno, Senayan, itu akan semakin berkembang di berbagai tempat. Yang di dalam itu (Istora Soekarno) sudah tidak difungsikan, museum saja, yang baru dibangun di pinggir-pinggir kanal Tirta Sangga Jaya itu.

Dulu waktu Pak Karno (Soekarno) membangun Jakarta dengan modal yang kecil, itu rakyat Senayan dipindahkan berkali-kali, mau. Dari tempat lain pindah ke Senayan, dari Senayan pindah lagi ke Tebet. Dari Tebet pindah lagi, masih mau dan sekarang pasti juga mau, asal jelas tujuan dan maksudnya.

Dalam pembangunan Banjir Kanal Timur, ada rakyat yang tidak mau pindah, karena ada permainan dan sebagian soal status tanah, jadi menghambat?
Nanti justru tidak dipindahkan, tetap tinggal di wilayahnya masing-masing. Tanah untuk kanal dan jalan kanan-kiri dibebaskan (dibeli), Namun nanti rakyat dapat lagi di sekitar wilayah itu juga.

Jadi tanahnya akan tertata?
Tertata! Bangunan gedung dan rumah naik ke atas, bertingkat, apartemen. Jadi nanti mengontrol keamanan gampang, mengontrol politik gampang. Jalan raya, jalan umum tidak susah. Satu RW (rukun warga) satu gedung. Alamat nggak berubah. Dengan demikian satu hektar lahan bisa menggantikan dua-tiga puluh hektar fungsi perumahan. Satu hektar itu 100 x 100 cukup untuk satu RW. Dua tiga bangunan layak dibangun menggantikan dua puluh hektar yang dihuni oleh semua orang itu, masuk semua ke situ.

Semudah itu?
Memang tidak semudah itu, makanya harus dipikirkan bersama-sama. Tapi, China bisa kok. China itu buta huruf yang dipindahkan ke kota rayanya, tapi diberi pembimbing yang melek huruf. Akhirnya semua melek huruf, walaupun meleknya bertahap. Dalam tempo sepuluh tahun melek sebagian. Dalam tempo tiga puluh tahun sudah melek semuanya. Jadi jangan menunggu melek semuanya, tidak bisa. Belum melek sudah diambil nyawanya oleh malaikat. Sama dengan pisang, jangan menunggu semua masak. Satu tandan masak, ayo dipanen.

Jadi tidak bisa ditunggu sampai semua siap?
Oh nggak, kesiapan itu ‘kan harus dipersiapkan. Tentara saja harus diteriakin. Nggak bakalan mau siap tentara itu kalau tidak diteriakin. Siaaap grak, baru bergerak. Harus ada teriakan. Diperlukan teriakan. Mari kita menyambut mimpi cemerlang Tirta Sangga Jaya, Ibukota Raya, Jakarta Raya.

Sumber  :  BI (Berita Indonesia 80)

About laskarmim

Menuju masyarakat indonesia yang adil dan sejahtera

Posted on Agustus 27, 2011, in Tokoh. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s