Tanaman Sorgum: Jalan Menuju Kemandirian

Strategi dasar kemandirian bangsa bertumpu pada kemandirian di bidang pangan dan energi. Oleh sebab itu, lembaga pendidikan Al-Zaytun Indramayu meretas jalan menuju kemandirian Indonesia dengan mengembangkan tanaman sorgum beserta pabrik pengolahannya sehingga siap untuk dikonsumsi sebagai pengganti beras, bahan baku gula, pakan ternak, dan bahan baku bioetanol.

Perayaan tahun baru hijriyah 1 Muharam 1430 H memang sudah sebulan lebih berlalu. Namun, perayaan di Ma’had Al-Zaytun layak diulas dan dikenang kembali karena perayaan itu dihadiri ribuan umat dan berbagai daerah di Tanah Air, dari negara jiran Malaysia serta dihadiri beberapa pejabat dan tokoh nasional. Yang terpenting lagi, taushiyah Syaykh Al-Zaytun AS Panji Gumilang yang banyak menyoroti kebangkitan dan kemandirian bangsa Indonesia khususnya di bidang pangan dan energi, membuat perayaan 1 Muharam di Al-Zaytun semakin istimewa.

Berkenaan dengan masalah pangan dan energi, krisis yang terjadi di suatu negara akan semakin sulit dipulihkan jika negara yang dilanda krisis tersebut sangat tergantung pada sumber pangan dan energi dari luar. Oleh sebab itu, kemandirian di bidang pangan dan energi menjadi sangat penting karena dari situlah seluruh aspek kehidupan ekonomi, sosial, budaya, politik, pertahanan dan keamanan yang paling mendasar dimulai.

Salah satu cara meretas jalan menuju kemandirian, menurut Syaykh adalah dengan menanam dan mengembangkan sorgum. Oleh sebab itu, dalam berbagai kesempatan, termasuk ketika menyampaikan sambutan dalam perayaan 1 Muharam 1430 di hadapan para hadirin yang berjumlah sekitar 19 ribu orang di Masjid Rahmatan Lil Alamin, Syaykh AS Panji Gumilang mengajak untuk bersama-sama melakukan penanaman sorgum.

Ajakan itu mendapat sambutan positif saat itu, baik dari Pemerintah Daerah setempat sebagaimana disampaikan Camat Gantar Wasga Ciptowibowo SH., M.Si, dan Kepala Perum Perhutani KPH Indramayu Ir. Oman Suherman MP, maupun dari dua orang anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Prof. Dr. Radi A. Gani (bidang pertanian) dan Prof. Dr. Subur Budhisantosa (bidang Sosbud) yang memang sengaja hadir ke kampus Al-Zaytun saat itu untuk merayakan tahun baru hijriyah 1 Muharam 1430 H.

Ajakan Syaykh itu memang layak didukung melihat persoalan pangan dan energi yang dihadapi bangsa Indonesia selama ini serta melihat keberhasilan yang sudah dicapai bangsa lain dalam menanam sorgum. Seperti dikatakan Syaykh, keberadaan Amerika pada tahun 1901 sama seperti Indonesia,

banyakmengonsumsi gandum dan beras sedangkan sapi sebagai sumber susu dan daging belum banyak. Tapi setelah Amerika mengimpor bibit sorgum dari Afrika, sorgum diolah menjadi sumber pembangkitan makanan ternak sehingga ternak berlipat ganda. Sampai hari ini, Amerika surplus ternak (susu dan daging).

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Meski sudah cukup terlambat, namun bagi Syaykh itu tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak memulai. Syaykh menyebutkan, saat ini China memiliki 8,57 juta ha pertanian sorgum, India memiliki 15,8 juta ha, Amerika memiliki 5,47 juta ha, sementara Indonesia baru 18 ribu ha saja. Oleh sebab itu, untuk menggenjot jumlah produksi dan luasan lahan, penanaman sorgum bisa dimulai dari lahan-lahan hutan gundul. Kalau pemerintah bisa mengaktifkan 50% dari 25 juta ha hutan gundul dengan menanami sorgum, Indonesia bisa bangkit dan keluar dari ketergantungan akan pangan, pakan, dan energi dari negara luar.

Syaykh al-Zaytun kemudian mengambil contoh lain. Seandainya setiap kabupaten rata-rata bisa menanam sorgum seluas 10.000 hektare maka di 440 kabupaten akan dapat ditanam sorgum di areal 4,4 juta hektare. Dengan proses penanaman cuma enam bulan (sekali tanam dua kali panen), Indonesia bisa mempunyai kekayaan pangan, pakan, dan BBM non-fosil.

Saat ini, Al-Zaytun sudah menanam sorgum di arealnya sendiri. Guna memperluas penanamannya, Al-Zaytun menjalin kerjasama dengan Perum Perhutani KPH Indramayu yang menyediakan lahan seluas 224 hektare. Selain itu, masyarakat petani yang ada di Kecamatan Gantar perlahan-lahan dididik agar lebih mengenal sorgum beserta berbagai keunggulan dan potensi ekonominya, dan diharapkan kemudian bersama-sama Al-Zaytun menanam sorgum.

Rencananya, tahun 2009, sebagaimana dikemukakan oleh Adm Perum Perhutani KPH Indramayu, penanaman sorgum bisa diperluas lagi menjadi 500 hektare, terdiri dari 250 hektare oleh Perhutani dan 250 hektare oleh Al-Zaytun, sehingga bisa menjadi contoh bagi masyarakat Indramayu dan daerah-daerah lainnya.

Belum Tenar
Nama sorgum memang tak setenar padi, jagung, bahkan singkong. Petani di Jawa mengenalnya sebagai jagung cantel (centel) yang ditanam secara tumpang sari dengan tanaman pangan lain. Sementara di sebagian daerah Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, sorgum sudah menjadi salah satu bahan pangan.

Sorgum yang belum banyak dikenal orang ini rupanya menawarkan sejumlah kelebihan dibandingkan tanaman biji-bijian (serelia) lainnya. Salah satunya dari sisi kebutuhan tanaman akan air. Selama ini, konsumsi utama masyarakat Indonesia adalah beras. Beras yang berasal dari padi itu mengonsumsi sangat banyak air untuk dijadikan 1 kg bahan keringnya. Tercatat, dibutuhkan lebih dari 520 kg air. Sementara sorgum hanya membutuhkan 300 kg untuk menghasilkan 1 kg bahan kering. Bandingkan dengan jagung 368 kg, barley 434 kg, dan gandum 514 kg.

Sorgum yang mampu tumbuh di lahan marginal (kering, asam, salinitas tinggi), adaptasi luas, kebutuhan pada input pertanian lebih rendah, membuatnya cocok ditanam di Indonesia yang mempunyai banyak lahan kering dan panas seperti Indramayu Jawa Barat dan daerah-daerah di Indonesia Bagian Timur. Selain itu, umur tanaman relatif pendek (100-110 hari) dan biaya produksi rendah.

Kelebihan sorgum ini dipertegas oleh pakar sorgum dari Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) Prof Dr Soeranto Human. Menurut peneliti dari Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi Batan ini, sorgum memiliki daya adaptasi yang luas dan tahan terhadap serangan hama dan penyakit. Juga tahan terhadap genangan air, terhadap kadar garam tinggi dan keracunan aluminium.

Berdasarkan riset, sorgum di Indonesia memiliki produktivitas tinggi dengan rata-rata 5-7 ton/panen/ha, lebih tinggi dari pada padi, gandum, dan jagung. Bahkan, produktivitasnya bisa mencapai 11 ton per ha jika kelembaban tanah tidak menjadi penghalang. Sorgum dapat ditanam dengan sistem rutan (dipanen 2-3 kali sekali tanam).

Sebagai bahan baku bioetanol, menurut penelitian, sorgum dapat berkompetisi dengan molases tebu karena memiliki banyak kelebihan. Tanaman sorgum memiliki produksi biji dan biomasa yang jauh lebih tinggi dibanding tebu; sorgum memerlukan pupuk relatif lebih sedikit dan pemeliharaannya lebih mudah daripada tebu; laju pertumbuhan tanaman sorgum jauh lebih cepat, umurnya hanya empat bulan dibanding tebu tujuh bulan; kebutuhan benih sorgum hanya 5-10 kilogram per hektare dibanding tebu 4.500-6.000 stek batang per hektare.

Sementara itu, clearing house energi terbarukan dan konservasi energi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM) dalam situsnya menyebutkan perolehan alkohol dari sorgum mencapai 6.000 liter per hektare per tahun (dua kali panen) dibanding singkong yang 4.500 liter per hektare per tahun dan tebu 5.025 hektare per tahun. Sorgum sedikit kalah dengan ubi jalar (2,5 kali panen per tahun) yang menghasilkan 7.812 liter per hektare per tahun. Saat ini sudah ada alat pengolah sorgum menjadi bioetanol dengan skala produksi 500 liter bioetanol per hari. Alat yang diproduksi PT Blue dan Deptan itu bisa dibeli oleh kelompok tani atau koperasi tani.

Jenis dari sorgum bermacam-macam, ada yang berbentuk spikelet dan malai, selain itu ada sweet sorgum yang biasanya digunakan untuk bioetanol, grain sorgum yang digunakan untuk pangan, forage sorgum sebagai pakan, dual purpose sorgum untuk pangan dan pakan, dan broom sorgum yang malainya digunakan sebagai sapu.

Dipandang dari kandungan gizi, sorgum mengandung vitamin B1 (4,4 mg), protein (11 g), zat besi (0,38mg), kalsium (28mg), dan fosfor (287mg), lemak (3,3mg), karbohidrat (73 g). Energi yang dihasilkan 332 cal. Jika dibandingkan dengan beras yang memiliki komposisi; kalori (360 cal), protein (6,8g), karbohidrat (78,9 g), lemak (6,0mg), kalsium (9 mg), besi (0,8mg), fosfor(140mg), vit.B1 (0,2mg), terlihat bahwa sorgum lebih unggul dari sisi kandungan protein, lemak, zat besi, fosfor, vitamin B1, dan kalsiumnya.

Menurut beberapa sumber, sebagaimana juga disebutkan Syaykh, pada dasarnya hampir semua bagian tanaman sorgum bisa dimanfaatkan, mulai dari biji, batang, hingga daunnya. Biji sorgum misalnya, bisa digunakan sebagai campuran pakan ternak dan unggas, sedangkan batang dan daunnya dimanfaatkan untuk pakan ternak besar (ruminansia).

Cara mengolah sorgum juga mudah, tidak perlu membeli peralatan khusus untuk mengolahnya. Sorgum dapat digiling dan disosoh dengan penggilingan dan penyosoh beras. Selain itu cara memasak juga mudah, yakni menanak dengan tanakan nasi ataupun rice cooker. Yang berbeda hanyalah jumlah air dan waktu yang dibutuhkan untuk mengolahnya menjadi seperti nasi.

Produk utama tanaman sorgum adalah tepung dan pati sorgum yang biasa digunakan bahan pembuat penganan seperti kue, snack ringan, pizza, roti, crackers, biskuit, sereal, salad dressing, gula merah, dan bahkan minuman. Sorgum menjadi solusi bahan pangan bagi penderita alergi gandum.

Berbagai keunggulan yang dimiliki oleh sorgum ini membuat banyak pihak serius untuk mengembangkannya. Karena prospek pengembangannya begitu cerah, sampai-sampai Bill Gates Foundation berani menggelontorkan dana lebih dari 60 juta USD untuk mengembangkan sorgum di Afrika dan negara berkembang lainnya.

Jika Bill Gates Foundation berani menggelontorkan dana hingga puluhan juta dolar untuk mengembangkan sorgum di Afrika dan negara berkembang lainnya, Indonesia sebagai negara yang mempunyai potensi besar mengembangkan sorgum harus lebih serius untuk membudidayakan dan mengonsumsinya.

Untuk itu, kerjasama dari berbagai pihak dalam menyosialisasikan dan memasyarakatkan sorgum seperti yang dilakukan Syaykh belakangan ini harus semakin intens dilakukan. Al-Zaytun, sebagai lembaga pendidikan satu pipa yang peduli membangun ketahanan pangan Indonesia dan yang bertekad semakin gencar mengembangkan pembudidayaan sorgum di tahun 2009 ini, juga perlu mendapat dukungan dari pemerintah dan pihak-pihak terkait.

Sumber  :  (Berita Indonesia 64)

About laskarmim

Menuju masyarakat indonesia yang adil dan sejahtera

Posted on Agustus 27, 2011, in Pertanian. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. tohom bestari hutahaean

    apa kabar perkembangan tanaman sorgum saat ini, saya tinggal di seputaran kota medan, dimana saya bisa mendapatkan bibit sorgum.

  2. Saya sebagai warga tegal,jawa tengah siap mendukung penanaman sorgum,tapi bagaimana untuk penyaluran dan lain2nya
    padahal untuk di daerah saya juga sangat potensial.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s