Ayo kita membangun !


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Senin (10/1/2011), memaparkan 10 capaian keberhasilan pemerintahannya sepanjang tahun 2010. Presiden juga memaparkan bahwa Indonesia akan menjadi emerging nation pada 2025. Sebelumnya, Menko Perekonomian Hatta Rajasa telah memaparkan Indonesia saat ini telah masuk negara perekonomian 18 besar dunia dengan nilai produk domestik bruto lebih dari 700 miliar dollar AS.

                                                        SBY

Pada hari yang sama, sejumlah pemuka lintas agama dan aktivis pemuda menyampaikan pernyataan terbuka (publik) perlawanan terhadap kebohongan. Dalam pertemuan di Kantor Pusat Muhammadiyah itu, dipaparkan dua kali sembilan kebohongan pemerintah.

Pada hari itu juga (10/1/2011) Ketua Umum DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri dalam orasi politik pada peringatan HUT Ke-38 PDI-P menyatakan, klaim pemerintah tentang keberhasilan statistik makroekonomi tidak berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan rakyat. “Oleh karena itu, hentikan pengungkapan keberhasilan statistikal,” harap Mega.

Kita memandang, pemerintahan Presiden SBY memang sangat piawai mengemas publikasi keberhasilan, baik dengan paparan rangkaian kata-kata maupun angka-angka statistik. Presiden juga selalu tampil menawan dalam pemaparan di hadapan publik. Berbagai pernyataan bernafas retorika sering mengemuka. Sangat banyak janji yang belum (tidak) terpenuhi. Sehingga sebagian janji yang belum terpenuhi itu, dinyatakan pada pertemuan para pemuka lintas agama oleh para aktivis muda sebagai kebohongan.

Memang, banyak pihak menyebut, pemerintah sangat mengutamakan pencitraan. Dengan berat hati, kita juga melihat bahwa pemerintah sebaiknya menghentikan tebar pesona itu. Dalam pencitraan politik, tebar pesona itu mungkin perlu. Tapi bagi para negarawan sejati, tebar pesona tentulah tidak perlu atau bahkan dianggap sebagai jalan menyesatkan.

Seorang negarawan, tidak menempatkan pujian sebagai tujuan. Dia fokus pada pengabdian demi kemajuan rakyat, bangsa dan Negara, dengan ketaatan pada azas dan nilai-nilai dasar negaranya. Contohnya, jika nilai-nilai dasar mengamanatkan kebebasan beragama dan menghargai keberagaman, seorang negarawan pasti membuktikannya dalam karya dan kebijakan nyata. Tidak cukup dengan berwacana. Apalagi menjaga popularitas dengan netralitas walau bertentangan dengan azas dan nilai-nilai dasar bernegara. Seorang negarawan, pasti menilai hal seperti itu sebagai jalan sesat. Maka, dalam hal ini kita sepaham dengan Buya Syafii Maarif agar siapapun kita jangan merasa benar di jalan yang sesat!

Kita pun mengajak semua komponen bangsa untuk kembali ke jalan yang benar dengan ketaatan pada azas dan nilai-nilai dasar bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang telah diwariskan para founding fathers bangsa ini. Marilah kita menghentikan kebohongan demi pencitraan politik. Semua komponen bangsa, marilah bahu-membahu untuk mengisi kemerdekaan yang telah dibayar mahal para pejuang bangsa ini dengan membangun.

Pemerintah hendaklah memerintah dengan benar. Bekerjalah untuk membangun bangsa ini tanpa sarat muatan kepentingan-kepentingan politik praktis, apalagi dengan memoles-moles kata dan data demi pencitraan. Segenap masyarakat Indonesia juga supaya memiliki karakter menjadi masyarakat Indonesia membangun.

Ayolah kita melawan kebohongan dengan kerja nyata: Membangun! Sebagaimana yang mengemuka dalam perenungan Tahun Baru (1 Muharram 1432 H dan 1 Januari 2011) di Al-Zaytun dengan memaknainya sebagai gerakan untuk mewujudkan karakter luhur bangsa sebagai bukti masyarakat Indonesia membangun. Hal mana membangun negara dan bangsa adalah menjadi tugas dan tanggungjawab bersama masyarakat Indonesia, kapan pun dan dalam situasi apa pun.

                                                    ASPG

Dalam hal ini, kita mengutip pesan Syaykh Panji Gumilang yang mengatakan bahwa membangun adalah manifestasi daripada cita-cita kemerdekaan Indonesia. Merdeka adalah untuk membangun. Yakni (1) Membangun untuk bersatu; (2) Membangun untuk berdaulat; (3) Membangun untuk adil dan makmur; (4) Membangun untuk memajukan kesejahteraan umum; (5) Membangun untuk mencerdaskan kehidupan bangsa; (6) Membangun untuk mewujudkan ketertiban dunia; (7) Membangun untuk perdamaian abadi; (8) Membangun untuk keadilan sosial; dan (9) Membangun untuk mempertahankan kedaulatan rakyat.

Sumber : Redaksi (Berita Indonesia 82)

About laskarmim

Menuju masyarakat indonesia yang adil dan sejahtera

Posted on Agustus 27, 2011, in Berita nasional. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s