Sejarah Para Perempuan Pejuang di Nusantara


imagesSeluruh insan yang dicipta oleh Al-Kholiq Yang Maha Pencipta, memiliki tujuan penciptaan yang sama yaitu untuk menjadi Hamba-Nya yang mengabdi kepada Maha Raja Penguasa Langit dan Bumi Allah SWT. Dia lah yang telah menyempurnakan penciptaannya baik insan laki-laki maupun insan perempuan. Allah telah menganugerahkan kepada perempuan sebagaimana pula Allah menganugerahkan kepada lelaki segala potensi aqliyah, ruhaniyah dan jasmaniyah. Kepada mereka berdua dianugerahi Allah potensi dan kemampuan yang cukup untuk memikul tanggung jawab dan yang menjadikan kedua jenis kelamin ini dapat melakukan aktivitas-aktivitas yang bersifat umum maupun khusus.

Tak ada beda antara lelaki dan perempuan di hadapan Allah, semuanya diberikan fungsi dan peran yang sama untuk memikul tanggung jawab hidup di dunia sebagai Khalifatullah di bumi. Al-Qur’an memberikan gambaran tentang kewajiban yang sama antara lelaki dan perempuan dalam berbagai bidang kehidupan bahkan diperintahkan untuk

Banyak yang dijadikan contoh dalam Al-Qur’an bagaimana kiprah perempuan yang beriman (Mu’minat – Muslimat) yang peran penting dalam panggung sejarah terkhusus sejarah gerak perjuangan dakwah para Nabi dan Rosul Allah. Ada Siti Hawa, wanita pertama yang Allah ciptakan untuk menemani Adam as memimpin bumi, ada Siti Sarah, wanita cantik yang pertama kali beriman kepada dakwah Nabi Ibrahim. Keteguhan imannya kepada Allah dan ketaatan pada suaminya di uji ketika ia digoda oleh seorang Raja yang kaya raya untuk berzina, tetapi ia tetap berpegang teguh pada keimanan dan keta’atan pada suaminya, ada juga Siti Hajar, wanita yang cantik yang terkenal karena keteguhan keimanan, ketakwaan dan tawakalnya kepada Allah. Sehingga hal itu di abadikan oleh Allah dalam salah satu dalam syariat haji. Yaitu, sa’i,  berlari-lari kecil antara bukti shofa dan marwa. Ada juga Ibunda Musa, adalah sosok ibu yang rela berkorban demi keselamatan anaknya, sangat sabar dalam membesarkan anaknya, walaupun ia harus rela melepaskan anaknya untuk di adopsi oleh Asiyah, istri fir’aun. Seorang istri yang sholehah dari Raja dan penguasa yang sangat kejam, dan lainnya.

Asiyah binti Mazahim adalah contoh teladan dari perempuan pejuang, dia adalah istri Fir’aun yang hidup dibawah kekuasaan suami yang melambangkan kezaliman. Asiyah dengan teguh memberontak, melawan dan mempertahankan keyakinannya apapun resiko yang diterimanya.

Tentu ada juga perempuan-perempuan yang Allah abadikan di dalam Al-Qur’an sebagai peringatan bagi orang-orang beriman, karena pembangkangannya kepada Allah dan Rosul-Nya seperti istrinya Nabi Luth ataupula istrinya Nabi Nuh.

Ini semua Allah kisahkan agar menjadi pelajaran (ibrah), nasehat (Mau’idhzah), peringatan (Zikra), petunjuk (Huda), peneguhan (Tasdiq) dan Kasih sayang (Rahmah) bagi generasi manusia selanjutnya.

Di Nusantara, perempuan punya cerita. Kisah perempuan pejuang yang banyak dilupakan oleh zaman yang tak menghargai mahalnya warisan sejarah. Perempuan pejuang bukan hanya sebatas “pejuang perempuan” yang mencari hak diantara dominasi kaum lelaki akan tetapi lebih dari itu, mereka memperjuangkan hak-hak manusia untuk merdeka. Perempuan pejuang yang membentang dari masa ke masa membela keyakinan dan harapan, memperjuangkan tanah kelahiran tempat bakti pada Ilahi.

Rekam jejak perempuan pejuang ini dihadirkan kembali dalam ingatan generasi kini dalam buku “PEREMPUAN PEJUANG : Jejak Perjuangan Perempuan Islam di Nusantara dari Masa ke Masa” yang ditulis oleh penyuka sejarah Widi Astuti

Tahun 1511 adalah catatan awal invasi bangsa Eropa pertama ke wilayah Nusantara. Inilah perang Sabil pertama dalam sejarah Islam Nusantara, yang ditandai dengan agresi tentara Kerajaan Protestan Portugis yang dipimpin oleh Alfonso de Albuquerque yang berpusat di Goa, India, terhadap Kerajaan Islam Malaka, yang ketika itu di bawah kekuasaan Sultan Mahmud Syah I (memerintah tahun 1488 – 1511).

Di ujung pulau Sumatera, Kesultanan Aceh belum lama berdiri ketika Portugis menaklukkan Malaka pada 1511. Kesultanan ini secara bertahap menjadi kuat di semenanjung Sumatra pada paruh pertama abad ke-16. Kala itu, lada Sumatra laku keras di pasaran Tiongkok dan Eropa. Hubungan dengan pedagang dari pesisir laut merah pun segera terjalin. Ini membawa keuntungan bagi Kesultanan Aceh. Portugis melihat itu sebagai ancaman, sementara sultan-sultan Aceh menilai Portugis sebagai lawan. Perang pun tak terelakkan. Aceh menyerang Malaka pada 1537, 1547, 1567, 1574, dan 1629.

Dalam peperangan itu, Aceh menyertakan armada perempuan. Orang Portugis agak canggung dibuatnya. Tapi, tak ada pilihan: mereka harus berperang melawan para perempuan. Inilah tilas mula keperkasaan perempuan Aceh. Kesertaan perempuan Aceh ditemukan dalam perang tahun 1567 walau belum berhimpun dalam kesatuan khusus. Jennifer Dudley, mahasiswi doktoral Universitas Murdoch, menyebut perempuan-perempuan itu bergabung ke dalam pasukan Sultan Alauddin Riayat Syah al-Kahar. “Mereka menemani suaminya berperang, sementara sisanya adalah janda atau tunangan dari prajurit yang gugur dalam perang sebelumnya,” tulis Dudley dalam “Of Warrior Women, Emancipiest Princesses, ‘Hidden Queens’, and Managerial Mothers.”

Dari sinilah sejarah perempuan pejuang bermula, darah Syahidah Keumalahayati mengalir dari Selat Malaka mewarnai lautan yang menghubungkan antar Nusa yang bernama Nusa-Antara (Nusantara). Nama Malahayati dari Kesultanan Aceh yang berhasil meluluh lantakan armada-armada penjajah. Reputasinya sebagai penjaga Selat Malaka yang handal sangat ditakuti oleh armada-armada Portugis, Belanda dan Inggris. Nama Malahayati mampu membuat bergidik kapal-kapal asing.

Sebelum Malahayati, sosok yang ditakuti tentara Portugis, mereka menyebutnya Rainha da Japara, senhora poderosa e rica, yang berarti Ratu Jepara, seorang wanita yang kaya dan berkuasa. Dia adalah Ratu Kalinyamat dari Jepara yang bersekutu dengan Kesultanan Aceh menggempur Portugis di Selat Malaka. Kehebatan dan kekayaan Ratu Kalinyamat digunakan untuk menegakan agama Allah. Dia tidak rela bumi Nusantara dijadikan perpanjangan tangan  perang salib. Ratu Kalinyamat dan Malahayati adalah “Ibu Pertiwi”, ibu dari para penjaga negeri, semangat mereka melahirkan para perempuan pejuang di bumi Nusantara dari masa ke masa.

Buku ini mengulas jejak perempuan pejuang di Nusantara dari masa ke masa. Ada 17 perempuan berbeda masa, berbeda generasi, yang tersebar di seluruh Nusantara berkiprah untuk satu tujuan menjadi pengawal negeri, menjadi “Ibu Pertiwi”. Mereka adalah Ratu Kalinyamat, Malahayati, Safiatudin, Nyi Ageng Serang, Siti Aisyah We Tenriolle, Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Pocut Baren, Cut Nyak Meutia, Pocut Meurah Intan, Siti Walidah, R.A. Kartini, Dewi Sartika, Rohana Kudus, Rahmah El-Yunusiyah, H.R. Rusana Said, dan Solichah A. Wahid Hasyim. Sebuah penulisan sejarah yang masih langka karena sejarah masih didominasi oleh kaum laki-laki.

Corak sejarah yang androsentris seperti ini menempatkan perempuan hanya sebagai figuran. Keadaan ini memang tidak adil karena sesungguhnya perempuan dapat dipandang sebagai pribadi yang mandiri, yang bisa menggerakkan sejarah.

Sejarah adalah mengingat yang lupa, dan bangsa Indonesia yang besar ini tak pantas untuk melupakan jejak langkah perjuangan kaum perempuan sebagai Ibu Pertiwi.

Perempuan adalah salah satu agent of change yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Keberadaannya sangat menentukan peradaban suatu bangsa. Baik buruknya perempuan menjadi cerminan baik buruknya suatu bangsa. Sejarah pun telah mencatat nama-nama agung perempuan yang pernah dilahirkan di dunia ini. Hampir setiap negara memiliki perempuan-perempuan agung yang mampu menjadi pionir perubahan bagi masyarakatnya, tidak terkecuali negara Indonesia.

Tampilnya perempuan Indonesia menjadi pionir disebabkan karena keresahannya melihat kondisi sosial disekitarnya yang tidak adil. Ketidakadilan dan kezaliman  ini terlihat jelas ketika Indonesia berada dibawah cengkeraman penjajah, baik Portugis, Belanda, maupun Jepang.

Semoga buku ini dapat memberikan pembelajaran, inspirasi dan kesadaran akan fungsi dan peran perempuan dalam kancah zaman bahwa perempuan-perempuan Indonesia di masa kini pun musti bisa berkarya dan berjuang untuk sebuah keyakinan dan cita-cita yang luhur dan mulia.
Kulihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matamu berlinang
Mas intanmu terkenang
…………..
Ibu kami tetap cinta
Putramu yang setia
Menjaga harta pusaka
Untuk nusa dan bangsa